Membangun Techno Oligarch: Bali Tech Hub
Sebuah gagasan tentang new generation Bali techno oligarch sedang dibangun di Denpasar. Pencetusnya, Weida Ksatriawarma, pendiri komunitas Bali Tech Hub, ingin sekelompok kecil anak muda Bali kelahiran 2000 ke atas ikut memegang kendali arah ekonomi teknologi Bali, bahkan Indonesia. Menurut Weida, orang-orang teknologi berhak memegang kendali itu, dan generasi Bali tidak boleh berhenti sebagai karyawan programmer di perusahaan orang lain.
Catatan transparansi, Bali Alpha didirikan oleh Weida dan penulis artikel ini memiliki hubungan keluarga dengannya. Artikel ini menyajikan gagasan Weida beserta data dan kritik yang relevan agar pembaca bisa menilai sendiri.
Istilah yang Sengaja Provokatif
Kata oligarki di Indonesia punya kesan negatif karena diasosiasikan dengan segelintir pemilik modal yang dekat dengan kekuasaan. Weida sadar akan hal itu dan tetap memakai istilah tersebut dengan makna berbeda. Menurutnya, techno oligarch adalah pembangun yang menguasai software, data, AI, dan jalur distribusi, dengan pengaruh yang datang dari produk yang dipakai orang. Kalau produknya tidak lagi berguna, pengaruh itu hilang dengan sendirinya.
Terinspirasi dari Peter Thiel
Weida menyebut Peter Thiel, pendiri PayPal, sebagai sumber inspirasi. Dalam esainya tahun 2009, Thiel menulis bahwa ia “no longer believes that freedom and democracy are compatible”. Pernyataan itu banyak diperdebatkan, dan sebagian kritikus membacanya sebagai sikap yang meragukan demokrasi. Perlu dicatat bahwa Thiel sendiri tidak menyatakan orang teknologi berhak mengatur dunia, karena yang ia dorong adalah mencari ruang kebebasan lewat teknologi dan usaha sendiri. Kesimpulan bahwa orang teknologi berhak memegang kendali adalah kesimpulan Weida sendiri.
Dari Thiel, Weida juga mengambil gagasan dalam bukunya Zero to One, bahwa nilai terbesar lahir dari menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, bukan sekadar berebut pasar yang sudah ada. Bagi Weida, pendekatan itu cocok untuk anak muda bermodal terbatas.
Mengapa Generasi 2000 ke Atas
Menurut Weida, anak muda kelahiran 2000 ke atas tumbuh bersama ponsel, media sosial, dan AI. Data mendukung sebagian argumen itu. Laporan e-Conomy SEA mencatat 79 persen pengguna internet Indonesia sudah belajar memakai tools AI.
Namun data lain memberi catatan. Penelitian terhadap sekitar 2,7 juta founder menemukan bahwa rata-rata usia founder perusahaan dengan pertumbuhan tercepat adalah 45 tahun. Data itu berasal dari Amerika, tetapi menunjukkan bahwa usia muda bukan jaminan keberhasilan. Weida mengatakan komunitasnya menilai anggota dari karyanya, bukan tahun lahirnya, dan ia ingin tetap belajar dari generasi sebelumnya.
Cara Bali Tech Hub Menyaring Anggota
Bali Tech Hub adalah komunitas untuk developer, desainer, kreator, dan founder muda Bali, dan siapa pun bisa bergabung gratis lewat Discord. Namun untuk naik level, Weida menyaring anggota secara langsung. Ia bertanya kepada anggota dan melihat project yang pernah mereka buat. Anggota yang belum punya project belum dinaikkan rolenya. Ada Rookie untuk yang lolos sebagian saringan, Elite untuk yang lolos penuh, dan lapisan terdalam yang bersifat invite only di luar Discord.
Weida menjelaskan bahwa saringan itu bertujuan menjaga keseriusan. Anak muda yang usahanya masih kecil atau masih freelance tetap dirangkul selama benar-benar berkarya. Ke depan komunitas berencana saling mendukung dan berinvestasi di antara anggota dengan prinsip bootstrap. Latar belakang komunitas ini pernah kami bahas di artikel komunitas teknologi Gen Z pertama di Bali.
Pemilik, Bukan Sekadar Karyawan
Inti gagasan Weida adalah kepemilikan. Menurutnya, bekerja sebagai programmer adalah pekerjaan yang baik, tetapi kendali ada di tangan pemilik perusahaan, produk, dan data. Jika anak muda Bali hanya mengisi posisi karyawan sementara kepemilikannya berada di tempat lain, nilai terbesarnya tetap mengalir keluar dari Bali. Karena itu ia mendorong anggota membangun produk dan perusahaan sendiri, sekecil apa pun awalnya.
Leverage ala Naval Ravikant
Untuk mewujudkan kepemilikan itu, Weida juga memakai kerangka leverage dari Naval Ravikant, investor dan pendiri AngelList. Dalam tulisannya How to Get Rich, Naval membagi leverage menjadi tiga, yaitu tenaga kerja orang lain, modal, dan produk yang bisa digandakan tanpa menambah beban produksi seperti software dan media. Tenaga kerja dan modal butuh izin pihak lain, karena seseorang harus mau bekerja untukmu dan seseorang harus mau memberimu uang. Sebaliknya, kata Naval, code and media are permissionless leverage, artinya siapa pun bisa memakainya tanpa persetujuan siapa pun.
Bagi Weida, kerangka ini sangat cocok untuk anak muda Bali yang modalnya terbatas dan tidak punya akses ke investor besar. Cukup dengan komputer, seseorang bisa membuat software yang melayani banyak pelanggan sekaligus, atau membangun audiens lewat konten tanpa harus membayar iklan. Ia juga melihat AI memperbesar efek ini karena pekerjaan yang dulu butuh satu tim kini bisa dikerjakan satu orang. Ia ingin orang Bali memanfaatkan leverage ini sepenuhnya, dan memegang sahamnya sendiri, bukan hanya menjual waktu.
Mengapa Bali, dan Rencana di Bidang Pertahanan
Gubernur Wayan Koster menyebut pariwisata menyumbang sekitar 66 persen ekonomi Bali. Ketergantungan pada satu sektor berisiko, seperti terlihat saat pandemi, sehingga teknologi dipandang sebagai sektor kedua yang bisa menjual produk ke luar pulau.
Weida juga berencana membangun perusahaan di bidang pertahanan karena menilai Indonesia masih kekurangan pelaku di sektor itu. Industri ini diatur ketat oleh UU Nomor 16 Tahun 2012, tertutup bagi asing, dan memerlukan izin Kemhan. Menurut Kemhan, sejak UU Cipta Kerja posisi BUMN dan swasta di industri alat utama sudah sejajar, namun swasta tetap harus membuktikan kapasitasnya. Karena itu langkah awal yang realistis ada di software, sistem, dan komponen pendukung. Weida menyatakan akan berkonsultasi dengan Kemhan dan KKIP terlebih dahulu, dan rencana ini belum merupakan nasihat hukum.
Persaingan dengan Perusahaan Lama
Weida mengatakan ia serius ingin mengalahkan perusahaan lama yang lambat beradaptasi. Caranya dengan membuat produk yang lebih cepat dan mudah dipakai hingga pelanggan memilih produk baru, bukan dengan menjatuhkan siapa pun secara pribadi. Ia membangun usahanya secara bootstrapped, salah satunya lewat Dewata Tech, dan kami menyarankan pembaca menilai contoh itu secara kritis mengingat hubungan pendirinya dengan media ini.
Kritik yang Perlu Dijawab
Kritik terkuat menyangkut akuntabilitas. Pejabat bisa diganti lewat pemilu, sedangkan pemilik platform tidak. Lingkaran yang tertutup juga wajar menimbulkan pertanyaan, apalagi EIU menempatkan Indonesia di peringkat 59 dari 167 negara pada 2024 dengan kualitas demokrasi yang menurun. Weida menyatakan menerima kritik itu dan menjawabnya lewat hasil, yaitu berapa perusahaan yang lahir, berapa pekerjaan yang tercipta bagi orang Bali, dan berapa pendapatan yang masuk ke pelaku lokal. Jika angkanya tidak membaik, menurutnya pandangannya perlu dikoreksi.
Penutup
Gagasan ini ambisius dan layak diuji dengan hasil nyata. Bagi anak muda Bali yang tertarik, Bali Tech Hub terbuka untuk dimasuki. Pesan Weida kepada mereka sederhana, yaitu bangun sesuatu, jadilah pemiliknya, dan buktikan lewat karya meskipun ada yang meremehkan.
Tags
Join Bali Tech Hub Community
Discuss this article and connect with tech innovators in Bali.
Join Discord