8 min left
Home / Education

Weida Ksatriawarma: Founder Dewata AI yang Juara di PROXOCORIS 2026, Bangun Ekosistem Tech dari Bali

Danda Permana
Danda Permana
18 Apr 2026 • 8 min baca

Di balik kemenangan Tim Subak Code di PROXOCORIS International Competition 2026, ada sosok yang memimpin dari depan. Anak Agung Gde Weida Ksatriawarma, mahasiswa ITB STIKOM Bali sekaligus founder PT Dewata Artificial Intelligence, membuktikan bahwa anak muda Bali mampu bersaing di panggung internasional. Sebagai ketua tim yang meraih Juara 2 kategori Web Development dengan aplikasi Subak Hijau, Weida bukan sekadar peserta kompetisi. Ia adalah technopreneur Gen Z yang sedang membangun ekosistem teknologi dari Bali untuk Indonesia.

Dari Kampus di Bali ke Panggung Kompetisi Internasional

Weida Ksatriawarma adalah mahasiswa aktif di ITB STIKOM Bali, salah satu institusi pendidikan tinggi di bidang teknologi informasi yang berbasis di Denpasar. Namun aktivitasnya jauh melampaui ruang kuliah. Di usianya yang masih 20 tahun, Weida sudah mendirikan tiga entitas bisnis teknologi sekaligus, yaitu Dewata Tech untuk jasa pengembangan web dan aplikasi, Dewata AI untuk solusi kecerdasan buatan, dan Dewata Solutions sebagai media teknologi dan artikel digital. Ia juga mendirikan Bali Alpha sebagai media teknologi yang berfokus pada ekosistem digital Bali dan Indonesia.

Pada April 2026, Weida memimpin Tim Subak Code untuk berkompetisi di PROXOCORIS International Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Klabat di Sulawesi Utara. Bersama dua rekan timnya, Arya Ngurah Intaran dan Isa Rohmadan, mereka mengembangkan Subak Hijau, sebuah platform konsultan keberlanjutan berbasis AI yang dirancang khusus untuk pelaku UMKM Indonesia. Hasilnya, Tim Subak Code berhasil meraih Juara 2 di kategori Web Development, bersaing dengan peserta dari berbagai kampus nasional maupun internasional.

Kemenangan ini bukan kebetulan. Weida membawa seluruh pengalamannya sebagai founder startup AI ke dalam pengembangan Subak Hijau. Pemahaman mendalam tentang kebutuhan UMKM Indonesia, kemampuan teknis dalam membangun produk berbasis AI, dan pengalaman memimpin tim pengembangan menjadi modal utama yang membedakan Tim Subak Code dari peserta lain di kompetisi tersebut.

Membangun Dewata AI: Startup AI Bootstrap dari Pulau Dewata

PT Dewata Artificial Intelligence bukan startup biasa. Sejak awal, Weida memilih jalur bootstrap, membangun perusahaan tanpa pendanaan dari investor eksternal. Keputusan ini bukan karena keterbatasan akses, melainkan pilihan strategis untuk menjaga otonomi dalam menentukan arah produk dan perusahaan. Di tengah tren startup Indonesia yang berlomba mencari venture capital, pendekatan Weida terasa berbeda dan disiplin.

Dewata AI fokus pada pengembangan solusi kecerdasan buatan yang bisa diakses oleh bisnis kecil dan menengah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, Indonesia memiliki lebih dari 60 juta unit UMKM, namun mayoritas belum tersentuh oleh teknologi AI. Weida melihat gap ini sebagai peluang besar. Alih-alih menargetkan korporasi besar seperti kebanyakan startup AI di Jakarta, Dewata AI justru memilih segmen yang underserved namun memiliki volume pasar luar biasa besar.

Produk-produk yang dikembangkan Dewata AI mencakup chatbot berbasis AI untuk otomasi layanan pelanggan di platform messaging, predictive analytics, computer vision, dan pemrosesan dokumen. Semua produk ini dirancang agar mudah diimplementasikan oleh pelaku usaha yang tidak memiliki latar belakang teknis. Pendekatan user-first ini menjadi DNA perusahaan, tercermin juga dalam Subak Hijau yang memenangkan kompetisi PROXOCORIS.

Salah satu pencapaian signifikan Dewata AI adalah mendapatkan status verified technology provider dari Meta. Verifikasi ini bukan sekadar badge, melainkan validasi teknis yang membuka akses ke ekosistem Meta dan memperkuat kredibilitas perusahaan di mata klien dan mitra potensial. Untuk startup yang masih berusia muda dan dikelola oleh tim Gen Z, pencapaian ini menempatkan Dewata AI sejajar dengan perusahaan teknologi yang jauh lebih mapan.

Subak Hijau: Ketika Visi Founder Bertemu Kompetisi Internasional

Subak Hijau, aplikasi yang mengantarkan Tim Subak Code ke podium PROXOCORIS 2026, sebenarnya adalah manifestasi langsung dari visi Weida sebagai founder Dewata AI. Platform ini menjadi konsultan keberlanjutan berbasis AI yang bisa diakses di subakhijau.app, membantu pelaku UMKM menilai dan meningkatkan praktik keberlanjutan bisnis mereka.

Dari sisi teknis, Subak Hijau dibangun dengan stack yang sangat familiar bagi Weida, yaitu Next.js untuk frontend, Supabase sebagai backend berbasis PostgreSQL, dan Vercel AI SDK untuk komponen kecerdasan buatannya. Stack ini merupakan kombinasi yang sama dengan yang ia gunakan dalam proyek-proyek Dewata Tech untuk klien komersial. Dengan kata lain, produk kompetisi ini bukan prototipe amatir, melainkan aplikasi yang dibangun dengan standar industri nyata.

Empat fitur inti Subak Hijau mencerminkan pemahaman Weida tentang apa yang dibutuhkan pelaku UMKM. AI Chat Consultant memberikan akses konsultasi keberlanjutan dalam Bahasa Indonesia. Sustainability Score mengukur posisi bisnis dalam skala 0 sampai 100 di lima kategori. AI Roadmap Generator menerjemahkan skor menjadi rencana aksi konkret. Progress Tracking memungkinkan pelaku usaha memantau perkembangan mereka seiring waktu. Keempat fitur ini bekerja sebagai satu alur terpadu yang mencerminkan pendekatan product thinking, bukan sekadar kumpulan tools terpisah.

Nama Subak sendiri dipilih dengan sengaja untuk menghubungkan produk dengan warisan budaya Bali. Subak adalah sistem irigasi tradisional yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, simbol pengelolaan sumber daya secara kolektif dan berkelanjutan. Dengan mengangkat filosofi lokal ini ke dalam produk teknologi modern, Weida menunjukkan bahwa inovasi terbaik seringkali lahir dari pertemuan antara pemahaman budaya lokal dan kemampuan teknis global.

Arsenal Teknis yang Dibangun Sejak Dini

Yang membuat profil Weida menarik bukan hanya status founder-nya, tapi juga kedalaman teknis yang ia miliki di usia muda. Stack teknologi yang ia kuasai mencakup PHP, WordPress, React, Next.js, Node.js, JavaScript, Tailwind CSS, Python, HTML/CSS, Supabase, dan berbagai teknologi AI/ML. Ini bukan daftar yang ditulis untuk portofolio, melainkan tools yang aktif ia gunakan dalam lebih dari 15 proyek website yang sudah selesai dikerjakan dengan tingkat kepuasan klien yang mencapai 95 persen.

Kombinasi kemampuan teknis ini menjadikan Weida bukan sekadar founder yang bicara visi, tapi juga builder yang benar-benar membangun produk. Di ekosistem startup Indonesia, pemisahan antara founder non-teknis dan CTO teknis sudah menjadi pola umum. Weida menggabungkan keduanya dalam satu orang, sebuah keunggulan yang sangat terasa ketika ia harus memimpin pengembangan Subak Hijau dalam timeline kompetisi yang ketat.

Layanan yang ditawarkan melalui Dewata Tech juga menunjukkan versatilitas teknis yang luas. Mulai dari custom website, landing page, dan e-commerce, hingga pengembangan chatbot WhatsApp, integrasi sistem, automasi workflow, dan digital advertising berbasis data di platform Meta, Google, dan TikTok. Rekam jejak ini memberikan gambaran tentang seorang technopreneur yang tidak hanya memahami teknologi secara teori, tetapi sudah teruji dalam deliverables nyata untuk klien komersial.

Strategi Bali-First: Membuktikan Teknologi Tidak Harus dari Jakarta

Salah satu narasi terkuat dari perjalanan Weida adalah pilihan sadarnya untuk membangun perusahaan teknologi dari Bali, bukan dari Jakarta. Dalam ekosistem startup Indonesia yang masih sangat Jakarta-sentris, keputusan ini terasa kontra-intuitif. Namun Weida memiliki argumentasi yang solid. Lokasi geografis menurutnya bukan lagi batasan dalam industri teknologi modern. Yang menentukan adalah kualitas layanan dan kapabilitas tim.

Bali menawarkan keunggulan strategis yang sering diabaikan. Biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan Jakarta memungkinkan model bootstrap berjalan lebih sustainable. Kehadiran komunitas teknologi internasional di Bali, terutama dari kalangan digital nomad dan remote worker, memberikan akses ke perspektif global tanpa harus pindah ke Silicon Valley. Kedekatan dengan use case nyata di sektor pariwisata, hospitality, dan UMKM lokal menjadikan Bali sebagai laboratorium produk yang ideal.

Pendekatan Bali-first ini juga tercermin dalam produk-produknya. Subak Hijau mengangkat filosofi lokal Bali. Dewata AI memposisikan diri sebagai perusahaan AI terdepan di Bali dengan ambisi melayani jutaan bisnis secara nasional. Bahkan nama-nama perusahaannya, Dewata Tech, Dewata AI, Dewata Solutions, semuanya membawa identitas Bali ke depan. Ini bukan sekadar branding, melainkan statement bahwa teknologi berkualitas bisa lahir dari mana saja, termasuk dari Pulau Dewata.

Generasi Z yang Memimpin dengan Cara Berbeda

Weida Ksatriawarma mewakili generasi baru entrepreneur teknologi Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda dari generasi sebelumnya. Tim inti Dewata AI sebagian besar terdiri dari Gen Z, dengan anggota termuda berusia 18 tahun. Mereka tumbuh sebagai digital native, memahami teknologi bukan dari buku teks tapi dari pengalaman langsung membangun produk.

Yang membedakan Weida dari banyak founder muda lainnya adalah kombinasi antara ambisi besar dan eksekusi yang disiplin. Visi jangka panjangnya untuk Dewata AI adalah menjadi perusahaan AI terdepan di Indonesia yang melayani jutaan bisnis, dengan potensi ekspansi ke Asia Tenggara. Namun ia tidak terjebak dalam jargon startup yang kosong. Model bootstrap-nya menunjukkan kedewasaan finansial, fokusnya pada UMKM menunjukkan pemahaman pasar yang realistis, dan kemenangannya di PROXOCORIS menunjukkan kemampuan deliverables di bawah tekanan.

Di panggung PROXOCORIS, format penilaian yang membagi bobot antara submission dan pitching secara independen justru menguntungkan profil seperti Weida. Ia tidak hanya bisa membangun produk yang secara teknis solid, tetapi juga mampu mengkomunikasikan visi dan nilai produk dengan persuasif di hadapan juri internasional. Keseimbangan antara kemampuan teknis dan soft skill ini menjadi modal penting yang semakin langka di kalangan technopreneur muda.

Jejak yang Terus Diperluas

Kemenangan di PROXOCORIS 2026 adalah satu milestone, bukan destinasi akhir. Ekosistem yang dibangun Weida terus berkembang. Bali Alpha sebagai media teknologi menjadi platform untuk membentuk narasi tentang ekosistem digital Bali dan Indonesia. Dewata Tech terus melayani klien komersial dengan solusi web dan digital. Dewata AI melanjutkan pengembangan produk-produk AI yang masih dalam tahap beta menuju peluncuran komersial penuh.

Yang menarik untuk diamati ke depan adalah bagaimana pengalaman membangun Subak Hijau untuk kompetisi ini memperkuat kapabilitas Weida dan tim dalam mengembangkan produk-produk Dewata AI ke depannya. Kompetisi seperti PROXOCORIS menjadi ajang pembuktian bahwa tim muda dari Bali mampu membangun produk berkualitas internasional dalam waktu singkat.

Perjalanan Weida Ksatriawarma dari mahasiswa ITB STIKOM Bali menjadi founder multiple tech companies sekaligus juara kompetisi internasional di usia 20 tahun adalah bukti bahwa talenta teknologi Indonesia tidak terpusat di satu kota. Bali, dengan segala kekayaan budayanya, ternyata juga bisa menjadi tempat lahirnya inovasi digital yang relevan untuk jutaan pelaku usaha di Indonesia. Dan Weida baru saja memulai.

Bagikan Artikel Ini

Gabung Komunitas Bali Tech Hub

Diskusikan artikel ini dan terhubung dengan para inovator teknologi di Bali.

Join Discord

Baca Juga